Berpikir global atau regional ? (Sebuah paradoks)
"Every one of us is genuinely different.
Even the twins are identically different"
(yessy A)
Sebaiknya anda harus lebih bijak dalam mengeluarkan hasil pemikiran atau opini dalam suatu permasalahan. Karena, walaupun hanya dituliskan dalam sebuah cerpen, sebuah opini akan dapat merubah opini publik. Sebaliknya, untuk suatu opini yang dipublikasikan, siapkan hati untuk menerima ratusan argumen.
Penulisan yang lebih faktual biasanya ditulis secara ilmiah. Untuk analisa trend sosial biasanya diambil dari jajak pendapat beberapa ratus hingga puluhan ribu orang, tergantung dari biaya penelitian yang didapat. Untuk meningkatkan kepercayaan publik, tidak ada salahnya untuk menggabungkan kajian ilmiah dalam suatu cerita fiksi.
Menurut penulis, sebuah masalah (krusial atau tidak) harus dipikirkan 'taylor made' sesuai dengan kondisi (lahir & batin, mencangkup pemikiran) si penerima masalah tersebut, yang nantinya mungkin dapat dipecahkan menurut nuansa global ataupun regional. Sehingga tidak boleh ada pemaksaan ke suatu analisa dari suatu permasalahan.
Ada satu hal yang menarik perhatian publik hingga beken di surat kabar online, yang katanya dibaca oleh ratus ribuan (jutaan?) orang, yaitu telatnya pernikahan. Menurut agama Islam, seseorang harus segera dinikahkan apabila dipandang telah mapan, untuk menjaga akhlak. Karena 80%, penduduk Indonesia adalah muslim, secara umum anda harus sudah menikah di usia 25-26 tahun (atau sebelum 30 tahun ?). Mayoritas posting menyebutkan, siapa saja yang melanggar global etika tsb., dikecam dan dianalisa miring.
Hal ini cukup mengenaskan, karena ada 1.5 juta varian susunan dna yan berbeda untuk 71 ras orang (Nature, 2005). Secara logis, varian dna ini akan turut membentuk varian sel otak. Ditambah lagi, pola berpikir akan ditentukan pula oleh agama, budaya, lingkungan, keluarga, dll. Sehingga bisa diartikan ada jutaan analisa yang berbeda untuk kasus yang sama.
Secara sederhana dapat disebutkan, walaupun kepala sama hitam, tetapi pikiran berlainan. Sehingga definisi mapan dan kesiapan untuk menerima pernikahan akan diterjemahkan dalam berbagai artian yang bersifat regional varian.
Kembali ke posting online diatas, banyak hal yang menyebabkan generasi baru mengundurkan waktu yang tepat untuk hidup berpasangan. Di Jepang, prototipe workacholic dan mahalnya biaya hidup diduga menjadi sumber utama. Selain itu, tidak ada tuntutan agama yang dapat melarang orang Jepang untuk tinggal bersama.
Untuk generasi muda yang tinggal di luar Indonesia, kesibukan studi dan kesulitan hidup di negeri orang, mungkin menjadi alasan utama. Faktor lainnya, jodoh, keberuntungan mendapatkan pasangan yang sesuai dll. Bila kebahagiaan adalah sesuatu yang didambakan, otomatis pernikahan yang sekiranya tidak membahagiakan akan dihindari. Ada juga yang telat menikah tetapi tetap menjaga akhlak. Banyak juga yang belajar dari kasus pernikahan yang tidak sempurna, seperti menikah di usia 20-an, yang diselingin selingkuh di usia 30-an (karena bosan, dll) dan diakhirnya perceraian. Banyak juga kasus korupsi di Indonesia di landasi problema ekonomi keluarga. Selain itu, ada banyak juga varian kasus lainnya.
Saya tidak tahu apakah anda bisa menyimpulkan masalah dan paradigma diatas seperti yang saya inginkan. Dilain hal, saya tidak dapat memaksa anda untuk memilih memikirkan & memutuskan secara global ataupun regional. "It's up to you".
Sehingga kita sebaiknya tidak membuat opini yang dapat menyalahkan suatu keputusan. Layaknya jas yang enak dipakai, ia harus dibuat secara 'taylor-made'.
Salam.
Tokyo, 25 November 2005
Copyright @ YessyArv
Even the twins are identically different"
(yessy A)
Sebaiknya anda harus lebih bijak dalam mengeluarkan hasil pemikiran atau opini dalam suatu permasalahan. Karena, walaupun hanya dituliskan dalam sebuah cerpen, sebuah opini akan dapat merubah opini publik. Sebaliknya, untuk suatu opini yang dipublikasikan, siapkan hati untuk menerima ratusan argumen.
Penulisan yang lebih faktual biasanya ditulis secara ilmiah. Untuk analisa trend sosial biasanya diambil dari jajak pendapat beberapa ratus hingga puluhan ribu orang, tergantung dari biaya penelitian yang didapat. Untuk meningkatkan kepercayaan publik, tidak ada salahnya untuk menggabungkan kajian ilmiah dalam suatu cerita fiksi.
Menurut penulis, sebuah masalah (krusial atau tidak) harus dipikirkan 'taylor made' sesuai dengan kondisi (lahir & batin, mencangkup pemikiran) si penerima masalah tersebut, yang nantinya mungkin dapat dipecahkan menurut nuansa global ataupun regional. Sehingga tidak boleh ada pemaksaan ke suatu analisa dari suatu permasalahan.
Ada satu hal yang menarik perhatian publik hingga beken di surat kabar online, yang katanya dibaca oleh ratus ribuan (jutaan?) orang, yaitu telatnya pernikahan. Menurut agama Islam, seseorang harus segera dinikahkan apabila dipandang telah mapan, untuk menjaga akhlak. Karena 80%, penduduk Indonesia adalah muslim, secara umum anda harus sudah menikah di usia 25-26 tahun (atau sebelum 30 tahun ?). Mayoritas posting menyebutkan, siapa saja yang melanggar global etika tsb., dikecam dan dianalisa miring.
Hal ini cukup mengenaskan, karena ada 1.5 juta varian susunan dna yan berbeda untuk 71 ras orang (Nature, 2005). Secara logis, varian dna ini akan turut membentuk varian sel otak. Ditambah lagi, pola berpikir akan ditentukan pula oleh agama, budaya, lingkungan, keluarga, dll. Sehingga bisa diartikan ada jutaan analisa yang berbeda untuk kasus yang sama.
Secara sederhana dapat disebutkan, walaupun kepala sama hitam, tetapi pikiran berlainan. Sehingga definisi mapan dan kesiapan untuk menerima pernikahan akan diterjemahkan dalam berbagai artian yang bersifat regional varian.
Kembali ke posting online diatas, banyak hal yang menyebabkan generasi baru mengundurkan waktu yang tepat untuk hidup berpasangan. Di Jepang, prototipe workacholic dan mahalnya biaya hidup diduga menjadi sumber utama. Selain itu, tidak ada tuntutan agama yang dapat melarang orang Jepang untuk tinggal bersama.
Untuk generasi muda yang tinggal di luar Indonesia, kesibukan studi dan kesulitan hidup di negeri orang, mungkin menjadi alasan utama. Faktor lainnya, jodoh, keberuntungan mendapatkan pasangan yang sesuai dll. Bila kebahagiaan adalah sesuatu yang didambakan, otomatis pernikahan yang sekiranya tidak membahagiakan akan dihindari. Ada juga yang telat menikah tetapi tetap menjaga akhlak. Banyak juga yang belajar dari kasus pernikahan yang tidak sempurna, seperti menikah di usia 20-an, yang diselingin selingkuh di usia 30-an (karena bosan, dll) dan diakhirnya perceraian. Banyak juga kasus korupsi di Indonesia di landasi problema ekonomi keluarga. Selain itu, ada banyak juga varian kasus lainnya.
Saya tidak tahu apakah anda bisa menyimpulkan masalah dan paradigma diatas seperti yang saya inginkan. Dilain hal, saya tidak dapat memaksa anda untuk memilih memikirkan & memutuskan secara global ataupun regional. "It's up to you".
Sehingga kita sebaiknya tidak membuat opini yang dapat menyalahkan suatu keputusan. Layaknya jas yang enak dipakai, ia harus dibuat secara 'taylor-made'.
Salam.
Tokyo, 25 November 2005
Copyright @ YessyArv

1 Comments:
At 7:13 AM,
Son Kuswadi said…
He...he... Seneng baca tulisan Mbak Yessy..
Post a Comment
<< Home